Pelayanan menjadi sunyi
...

Pelayanan menjadi sunyi

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri, Jumat, 10 Oktober 2025. Pelayanan menjadi sunyi (Yoel 1:13-15, 2:1-2). 1:13 Lilitkanlah kain kabung dan mengeluhlah, hai para imam merataplah, hai para pelayan mezbah masuklah, bermalamlah dengan memakai kain kabung, hai para pelayan Allahku, sebab sudah ditahan dari rumah Allahmu, korban sajian dan korban curahan. 1:14 Adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya kumpulkanlah para tua-tua dan seluruh penduduk negeri ke rumah TUHAN, Allahmu, dan berteriaklah kepada TUHAN. 1:15 Wahai, hari itu! Sungguh, hari TUHAN sudah dekat, datangnya sebagai pemusnahan dari Yang Mahakuasa. 2:1 Tiuplah sangkakala di Sion dan berteriaklah di gunung-Ku yang kudus! Biarlah gemetar seluruh penduduk negeri, sebab hari TUHAN datang, sebab hari itu sudah dekat 2:2 suatu hari gelap gulita dan kelam kabut, suatu hari berawan dan kelam pekat seperti fajar di atas gunung-gunung terbentang suatu bangsa yang banyak dan kuat, yang serupa itu tidak pernah ada sejak purbakala, dan tidak akan ada lagi sesudah itu turun-temurun, pada masa yang akan datang.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Yoel 1:13–15 dan 2:1–2: Pertama, pelayanan menjadi sunyi. Dalam 1:13 Yoel berkata: “Sebab sudah ditahan dari rumah Allahmu, korban sajian dan korban curahan. Korban sajian dan curahan merupakan simbol dari ibadah dan pengabdian umat. Korban sajian dan curahan ini ditahan. Ungkapan ini bukan tentang rutinitas yang terhenti. Ungkapan ini bermakna profetik. Tuhan menghentikan ibadah sebagai tanda bahwa Tuhan tidak lagi berkenan atas formalitas kosong. Tuhan memanggil para imam, pelayan mezbah, dan umat untuk meratap, mengeluh, dan bermalam dengan kain kabung. Ini pun merupakan tindakan simbolik yang menandakan penyesalan total dan kesadaran akan keterputusan dari hadirat Tuhan. Tuhan ‘menahan’ kehadiran-Nya. Tuhan sengaja ‘membisu’ agar umat kembali mencari Tuhan bukan sekadar formalitas ritual. Kedua, fajar membawa kegelapan. Dalam ayat 2:2 Yoel berkata: “Suatu hari gelap gulita dan kelam kabut… seperti fajar di atas gunung-gunung terbentang...” Gambaran tentang hari TUHAN dalam kitab Yoel jauh dari kesan harapan atau sukacita. Hari itu digambarkan seperti fajar, tapi justru mengantarkan kabut gelap dan kehancuran. Kedatangan Tuhan tidak seindah yang dibayangkan. Sebuah ironi yang menusuk hati. Fajar biasanya menandakan awal yang cerah, namun di sini justru menandakan kedatangan bangsa yang kuat dan memusnahkan. Dalam seruan ini, Yoel sedang mengingatkan bangsa Israel dan orang percaya untuk menyiapkan diri hari Tuhan. Kalau orang percaya terus menyembunyikan hidupnya dalam bayang-bayang kenikmatan dunia, maka mungkin saja fajar itu tidak seindah yang dibayangkan. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Pertama :



Kedua :

Berkat :

Kembali ke Beranda