Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 26 Juli 2026. Hikmat Sejati Lahir dari Kerendahan Hati (1Raja-Raja 3:5.7-12). 3:5 Di Gibeon itu TUHAN menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi y pada waktu malam. Berfirmanlah Allah: Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu. 3:7 Maka sekarang, ya TUHAN, Allahku, Engkaulah yang mengangkat hamba-Mu ini menjadi raja menggantikan Daud, ayahku, sekalipun aku masih sangat muda dan belum berpengalaman. 3:8 Demikianlah hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kaupilih, d suatu umat yang besar, yang tidak terhitung e dan tidak terkira banyaknya. 3:9 Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan g antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup h menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini? 3:10 Lalu adalah baik di mata Tuhan 3 bahwa Salomo meminta hal yang demikian. 3:11 Jadi berfirmanlah Allah kepadanya: Oleh karena engkau telah meminta i hal yang demikian dan tidak meminta umur panjang atau kekayaan atau nyawa musuhmu, melainkan pengertian j untuk memutuskan hukum, 3:12 maka sesungguhnya Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu k itu, sesungguhnya Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat l dan pengertian, sehingga sebelum engkau tidak ada seorangpun seperti engkau, dan sesudah engkau takkan bangkit seorangpun seperti engkau.
Renungan : Dua pokok permenungan dari bacaan pertama hari ini, 1 Raja-raja 3:5,7-12:
Pertama : Hikmat Sejati Lahir dari Kerendahan Hati yang Mengenal Keterbatasan Diri. Salomo tidak meminta umur panjang, kekayaan, atau kemenangan atas musuh, melainkan hati yang paham menimbang perkara untuk memimpin umat Allah. Permintaan itu lahir dari kesadaran bahwa dirinya masih sangat muda dan tidak sanggup memimpin dengan kekuatannya sendiri. Justru kerendahan hati inilah yang berkenan di hadapan Tuhan. Bacaan ini mengajarkan bahwa awal dari hikmat bukanlah kepandaian, melainkan kerendahan hati yang bersedia bergantung pada Allah. Ketika kita mengakui keterbatasan diri dan memohon tuntunan-Nya, Tuhan membentuk hati yang mampu mengambil keputusan sesuai dengan kehendak-Nya.
Kedua : Allah Menganugerahkan Hikmat kepada Mereka yang Mengutamakan Tanggung Jawab daripada Kepentingan Pribadi. Salomo memilih meminta kemampuan untuk melayani umat, bukan keuntungan bagi dirinya sendiri. Karena ia mendahulukan kehendak Allah dan kesejahteraan sesamanya, Tuhan bukan hanya mengabulkan permintaannya, tetapi juga berjanji memberikan lebih daripada yang dimintanya. Bacaan ini mengingatkan bahwa hati yang mengutamakan pelayanan selalu membuka ruang bagi berkat Allah. Ketika kita mencari kehendak Tuhan dan kebaikan bersama di atas ambisi pribadi, Allah sendiri akan mencukupkan segala yang kita perlukan.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda