Allah Memilih Bejana Tanah Liat
...

Allah Memilih Bejana Tanah Liat

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Sabtu, 25 Juli 2026. Pesta Santo Yakobus Rasul. Allah Memilih Bejana Tanah Lihat (2Korintus 4:7-15). 4:7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. 4:8 Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit kami habis akal, namun tidak putus asa 4:9 kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. 4:10 Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. 4:11 Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini. 4:12 Maka demikianlah maut giat di dalam diri kami dan hidup giat di dalam kamu. 4:13 Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata. 4:14 Karena kami tahu, bahwa Ia, yang telah membangkitkan Tuhan Yesus, akan membangkitkan kami juga bersama-sama dengan Yesus. Dan Ia akan menghadapkan kami bersama-sama dengan kamu kepada diri-Nya. 4:15 Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah.

Renungan : Dua pokok permenungan dari bacaan pertama hari ini, 2 Korintus 4:7-15 (Pesta Santo Yakobus Rasul):

Pertama : Allah Memilih Bejana Tanah Liat agar Kemuliaan-Nya Tampak, Bukan Kehebatan Manusianya. Santo Paulus menggambarkan dirinya dan para rasul sebagai bejana-bejana tanah liat yang menyimpan harta yang sangat berharga, yaitu Injil Kristus. Bejana tanah liat adalah benda yang sederhana, murah, rapuh, dan mudah pecah. Gambaran ini mengingatkan bahwa Allah tidak mewartakan keselamatan melalui manusia-manusia yang sempurna, melainkan melalui pribadi-pribadi yang memiliki keterbatasan. Justru di situlah kuasa Allah menjadi nyata. Paulus kemudian mengungkapkan paradoks hidup kerasulannya: ditindas, namun tidak terjepit habis akal, namun tidak putus asa dianiaya, namun tidak ditinggalkan dihempaskan, namun tidak binasa. Semua itu menunjukkan bahwa kekuatan yang menopang pewarta Injil bukan berasal dari dirinya sendiri, tetapi dari Allah yang bekerja di dalam dirinya. Pada Pesta Santo Yakobus Rasul, bacaan ini mengingatkan bahwa panggilan menjadi murid Kristus bukanlah panggilan untuk tampil hebat di mata dunia, melainkan menjadi alat yang bersedia dipakai Tuhan. Kita sering merasa tidak layak karena kelemahan, kegagalan, atau keterbatasan yang kita miliki. Namun Allah tidak menunggu kita menjadi bejana emas sebelum berkarya melalui kita. Ia justru memakai kerapuhan kita agar tidak ada seorang pun yang memuliakan manusia, melainkan mengakui bahwa segala buah pelayanan berasal dari rahmat-Nya. Semakin seseorang menyadari kelemahannya dan bersandar kepada Tuhan, semakin nyata pula kuasa Allah yang bekerja melalui hidupnya.



Kedua : Seorang Rasul Membawa Kehidupan Justru dengan Bersedia Memikul Salib Bersama Kristus. Paulus mengatakan bahwa ia senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuhnya, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Kalimat ini mengungkapkan hakikat kerasulan yang sejati. Menjadi rasul bukan sekadar menyampaikan ajaran, tetapi ikut mengambil bagian dalam pola hidup Kristus sendiri: wafat demi menghadirkan kehidupan bagi orang lain. Santo Yakobus memahami panggilan ini bukan hanya dalam kata-kata, tetapi juga dalam hidupnya. Ia menjadi rasul pertama yang mengalami kemartiran (lih. Kis. 12:2), sehingga kesaksiannya dimeteraikan dengan darah. Dengan demikian, pewartaan Injil selalu mengandung dimensi pengorbanan. Memang tidak semua orang dipanggil menjadi martir dalam arti harfiah, tetapi setiap murid Kristus dipanggil untuk mati terhadap egoisme, kenyamanan, ambisi pribadi, dan keinginan untuk selalu diutamakan, agar kehidupan Kristus semakin nyata melalui dirinya. Paradoks inilah yang ditegaskan Paulus: maut giat bekerja di dalam kami, tetapi hidup giat bekerja di dalam kamu. Artinya, setiap pengorbanan yang dipersembahkan karena Kristus tidak pernah sia-sia pengorbanan itu menjadi jalan lahirnya kehidupan bagi banyak orang. Bacaan ini mengajak kita memandang salib dengan cara yang baru. Salib bukan tanda bahwa Allah meninggalkan kita, melainkan tempat di mana kuasa kebangkitan mulai bekerja. Ketika kita tetap setia mengasihi, melayani, dan mewartakan Injil di tengah kesulitan, kehidupan Kristus sedang dinyatakan melalui bejana-bejana tanah liat yang rapuh, sehingga hanya Allah sajalah yang menerima segala kemuliaan.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda