Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Jumat, 24 Juli 2026. Pertobatan Dimulai Dari Kesediaan (Yeremia 3:14-17). 3:14 Kembalilah, hai anak-anak yang murtad, demikianlah firman TUHAN, karena Aku telah menjadi tuan atas kamu! Aku akan mengambil kamu, seorang dari setiap kota dan dua orang dari setiap keluarga, dan akan membawa kamu ke Sion. 3:15 Aku akan mengangkat bagimu gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Ku mereka akan menggembalakan kamu dengan pengetahuan dan pengertian. 3:16 Apabila pada masa itu kamu bertambah banyak dan beranak cucu di negeri ini, demikianlah firman TUHAN, maka orang tidak lagi akan berbicara tentang tabut perjanjian TUHAN. Itu tidak lagi akan timbul dalam hati dan tidak lagi akan diingat orang orang tidak lagi akan mencarinya atau membuatnya kembali. 3:17 Pada waktu itu Yerusalem akan disebut takhta TUHAN, dan segala bangsa akan berkumpul ke sana, demi nama TUHAN ke Yerusalem, dan mereka tidak lagi akan bertingkah langkah menurut kedegilan hatinya yang jahat.
Renungan : Dua pokok permenungan dari bacaan pertama hari ini, Yeremia 3:14-17:
Pertama : Pertobatan Selalu Dimulai dari Kesediaan untuk Kembali kepada Allah yang Tidak Pernah Berhenti Memanggil. Bacaan ini dibuka dengan undangan yang penuh kelembutan: Kembalilah, hai anak-anak yang murtad, sebab Aku adalah tuanmu. Meskipun Israel telah berulang kali tidak setia, Allah tidak menutup pintu bagi mereka. Sebaliknya, Ia sendiri mengambil inisiatif untuk memanggil mereka pulang. Hal ini memperlihatkan bahwa pertobatan bukan pertama-tama lahir dari usaha manusia mencari Allah, tetapi dari kasih Allah yang lebih dahulu mencari manusia. Yang menarik, Allah tidak menuntut agar seluruh bangsa kembali sekaligus. Ia berkata, Aku akan mengambil kamu, seorang dari setiap kota dan dua orang dari setiap kaum. Ini menunjukkan bahwa Allah menghargai setiap pribadi. Tidak ada seorang pun yang terlalu kecil untuk diperhatikan atau terlalu jauh untuk dipulihkan. Setiap pertobatan pribadi memiliki nilai yang besar di hadapan-Nya. Bacaan ini menghibur kita ketika melihat kenyataan bahwa perubahan sering terjadi secara perlahan. Kita mungkin berharap semua orang di sekitar kita segera bertobat, atau kita sendiri ingin berubah secara instan. Namun Allah bekerja dengan penuh kesabaran, memanggil satu demi satu hati untuk kembali kepada-Nya. Yang terpenting adalah tidak mengabaikan suara panggilan itu. Setiap kali kita membuka hati terhadap rahmat-Nya, kita sedang mengambil langkah pulang menuju Dia yang tidak pernah lelah menantikan kedatangan anak-anak-Nya.
Kedua : Tujuan Allah Bukan Sekadar Memulihkan Masa Lalu, tetapi Membangun Umat yang Hidup Berpusat pada Kehadiran-Nya. Setelah mengajak Israel kembali, Allah menjanjikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kembalinya mereka ke tanah air. Ia akan memberikan gembala-gembala yang menggembalakan kamu dengan pengetahuan dan pengertian. Lebih dari itu, Yeremia menubuatkan suatu zaman ketika Tabut Perjanjian—lambang kehadiran Allah—tidak lagi menjadi pusat perhatian, sebab seluruh Yerusalem akan disebut Takhta Tuhan, dan semua bangsa akan datang kepada-Nya. Nubuat ini menunjukkan bahwa Allah sedang mengarahkan umat kepada hubungan yang lebih mendalam dengan diri-Nya. Fokus iman tidak lagi bertumpu pada benda-benda suci atau simbol-simbol lahiriah, tetapi pada kehadiran Allah yang nyata di tengah umat-Nya. Dalam terang Perjanjian Baru, janji ini mencapai kepenuhannya dalam Kristus, Sang Gembala Baik, yang tinggal di tengah umat-Nya dan menjadikan Gereja sebagai tempat perjumpaan dengan Allah. Bacaan ini mengajak kita untuk memeriksa pusat kehidupan rohani kita. Ada kalanya kita lebih sibuk dengan bentuk-bentuk lahiriah kehidupan beragama daripada membangun relasi yang hidup dengan Tuhan sendiri. Liturgi, devosi, tradisi, dan berbagai praktik rohani memiliki nilai yang sangat besar, tetapi semuanya diarahkan kepada satu tujuan, yakni membawa kita masuk ke dalam persekutuan yang semakin akrab dengan Allah. Ketika Tuhan sungguh menjadi pusat hidup, hati tidak lagi dikuasai oleh kedegilan hati yang jahat, melainkan dibentuk oleh kebijaksanaan-Nya. Dari sanalah lahir komunitas yang dipimpin oleh gembala-gembala yang setia, dipersatukan dalam kasih, dan menjadi kesaksian bagi dunia akan kehadiran Allah yang hidup.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda