Cinta Sejati Melahirkan Kerinduan Yang Tak Mudah Menyerah
...

Cinta Sejati Melahirkan Kerinduan Yang Tak Mudah Menyerah

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Rabu, 22 Juli 2026. Pesta St. Maria Magdalena. Cinta Sejati Melahirkan Kerinduan Yang Tak Mudah Menyerah (Kidung Agung 3:1-4). 3:1 Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. 3:2 Aku hendak bangun dan berkeliling di kota di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan kucari dia, jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. 3:3 Aku ditemui peronda-peronda kota. Apakah kamu melihat jantung hatiku? 3:4 Baru saja aku meninggalkan mereka, kutemui jantung hatiku kupegang dan tak kulepaskan dia, sampai kubawa dia ke rumah ibuku, ke kamar orang yang melahirkan aku.

Renungan : Dua pokok permenungan dari bacaan pertama hari ini, Kidung Agung 3:1-4a (Pesta Santa Maria Magdalena):

Pertama : Cinta yang Sejati kepada Tuhan Selalu Melahirkan Kerinduan yang Tidak Mudah Menyerah. Pengantin perempuan dalam Kidung Agung berkata, Di ranjangku pada malam hari kucari dia yang dicintai hatiku. Ia mencari, tetapi belum menemukannya. Namun kegagalan itu tidak membuatnya berhenti. Ia bangkit, berkeliling kota, menyusuri jalan-jalan dan lapangan-lapangan, terus mencari sampai akhirnya ia menemukan dia yang dicintai hatinya. Dalam terang Pesta Santa Maria Magdalena, bacaan ini menjadi gambaran yang sangat indah tentang perjalanan iman Maria Magdalena. Setelah wafat Yesus, ia juga mencari Tuhan dengan penuh kerinduan. Bahkan ketika makam telah kosong dan ia belum memahami apa yang terjadi, ia tetap tinggal di sana, menangis dan mencari Dia (lih. Yoh. 20:11-18). Kerinduannya kepada Kristus lebih besar daripada kebingungan dan kesedihannya. Karena itulah, Tuhan yang bangkit berkenan menampakkan diri pertama kali kepadanya. Bacaan ini mengajarkan bahwa kedalaman relasi dengan Tuhan tidak diukur dari seberapa sering kita mengalami penghiburan rohani, melainkan dari kesetiaan kita untuk tetap mencari-Nya bahkan ketika Ia terasa tidak hadir. Ada masa-masa ketika doa terasa hening, jawaban Tuhan belum tampak, atau perjalanan iman dipenuhi kebingungan. Justru pada saat-saat seperti itulah cinta kepada Tuhan dimurnikan. Orang yang sungguh mencintai Kristus tidak berhenti mencari hanya karena belum menemukan ia terus melangkah sampai akhirnya mengalami bahwa Tuhan sesungguhnya tidak pernah berhenti mencari dirinya terlebih dahulu.



Kedua : Perjumpaan dengan Tuhan Mengubah Pencari Menjadi Pewarta. Setelah menemukan dia yang dicintainya, pengantin perempuan berkata, Kupegang dia dan tidak kulepaskan. Kalimat ini bukan sekadar ungkapan rasa memiliki, melainkan gambaran sukacita karena akhirnya berjumpa dengan pribadi yang selama ini dirindukan. Namun dalam terang Injil Pesta Santa Maria Magdalena, kita melihat bahwa perjumpaan dengan Kristus tidak berhenti pada kenikmatan pribadi. Maria Magdalena memang mengalami perjumpaan yang sangat intim dengan Yesus yang bangkit, tetapi ia tidak diizinkan untuk tinggal menikmati pengalaman itu sendirian. Kristus segera mengutusnya: Pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka... (Yoh. 20:17). Dengan demikian, cinta yang sejati kepada Tuhan selalu bersifat misioner. Semakin seseorang mengenal Kristus, semakin ia terdorong untuk memperkenalkan-Nya kepada orang lain. Pengalaman rohani yang hanya disimpan untuk diri sendiri akan kehilangan dinamismenya. Bacaan ini mengajak kita untuk bertanya: apakah perjumpaan kita dengan Kristus sungguh mengubah cara kita hidup dan berbicara? Sebab tujuan akhir kehidupan rohani bukan hanya menemukan Tuhan bagi diri sendiri, melainkan menjadi saksi yang membawa orang lain kepada-Nya. Santa Maria Magdalena menunjukkan bahwa seorang yang pernah dipulihkan oleh kasih Kristus dapat diubah menjadi pewarta pertama Kebangkitan. Demikian pula, setiap orang yang sungguh bertemu dengan Tuhan dipanggil untuk menghadirkan kabar sukacita itu melalui perkataan, sikap, dan seluruh cara hidupnya.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda