Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Selasa, 21 Juli 2026. Pengampunan: Memulihkan Hubungan Yang Rusak (Mikha 7:14-15.18-20). 7:14 Gembalakanlah umat-Mu dengan tongkat-Mu, kambing domba milik-Mu sendiri, yang terpencil mendiami rimba di tengah-tengah kebun buah-buahan. Biarlah mereka makan rumput di Basan dan di Gilead seperti pada zaman dahulu kala. 7:15 Seperti pada waktu Engkau keluar dari Mesir, perlihatkanlah kepada kami keajaiban-keajaiban! 7:18 Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? 7:19 Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut. 7:20 Kiranya Engkau menunjukkan setia-Mu kepada Yakub dan kasih-Mu kepada Abraham seperti yang telah Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang kami sejak zaman purbakala!
Renungan : Dua pokok permenungan dari bacaan pertama hari ini, Mikha 7:14-15.18-20:
Pertama : Pengampunan Allah Tidak Sekadar Menghapus Dosa, tetapi Memulihkan Hubungan yang Rusak. Nabi Mikha menutup nubuatnya dengan sebuah pujian yang indah: Siapakah Allah seperti Engkau, yang mengampuni dosa dan memaafkan pelanggaran? Nama Mikha sendiri berarti, Siapakah seperti Allah? Pertanyaan ini dijawab bukan dengan menunjukkan kebesaran kuasa Allah, melainkan keluasan belas kasih-Nya. Allah tidak menikmati murka-Nya sebaliknya, Ia berkenan kepada kasih setia. Gambaran yang sangat kuat muncul ketika Mikha mengatakan bahwa Allah akan melemparkan segala dosa mereka ke dalam tubir-tubir laut. Pada zaman kuno, laut dipandang sebagai tempat yang tak terjangkau dan tak dapat diambil kembali. Artinya, Allah tidak hanya mengampuni, tetapi juga tidak terus-menerus mengungkit dosa yang telah diampuni. Ia membuka kesempatan bagi manusia untuk memulai hidup yang baru. Sering kali justru manusia lebih sulit mengampuni daripada Allah. Kita mungkin telah menerima pengampunan Tuhan, tetapi masih hidup dibayangi rasa bersalah, atau sebaliknya, terus mengingat kesalahan orang lain meskipun mereka telah bertobat. Bacaan ini mengundang kita untuk percaya bahwa belas kasih Allah selalu lebih besar daripada dosa kita. Pengampunan-Nya bukan sekadar membebaskan kita dari hukuman, melainkan memulihkan martabat kita sebagai anak-anak-Nya dan mengembalikan relasi yang sempat dirusak oleh dosa.
Kedua : Kesetiaan Allah Tidak Pernah Berubah Sekalipun Kesetiaan Manusia Sering Goyah. Pada akhir bacaan, Mikha mengingatkan bahwa Allah menunjukkan kesetiaan kepada Yakub dan kasih setia kepada Abraham, seperti yang telah dijanjikan kepada nenek moyang kami. Harapan Israel tidak bertumpu pada keberhasilan mereka menaati Allah, tetapi pada kesetiaan Allah sendiri terhadap perjanjian-Nya. Sepanjang sejarah, umat berulang kali jatuh dalam dosa, memberontak, dan meninggalkan Tuhan. Namun Allah tetap setia pada janji-Nya. Ia tidak membatalkan kasih-Nya hanya karena manusia gagal. Kesetiaan Allah menjadi dasar pengharapan yang tidak pernah mengecewakan. Pesan ini sangat penting bagi kehidupan rohani kita. Ada saat-saat ketika kita merasa perjalanan iman dipenuhi kegagalan, doa terasa kering, atau komitmen yang pernah kita bangun kembali runtuh. Dalam keadaan seperti itu, yang menopang kita bukanlah kesempurnaan kita, melainkan kesetiaan Allah yang tidak berubah. Justru karena Allah tetap setia, kita selalu memiliki alasan untuk bangkit kembali. Bacaan ini mengajak kita bukan untuk menyalahgunakan belas kasih Allah, melainkan menjadikannya kekuatan untuk semakin setia kepada-Nya. Orang yang sungguh mengalami kesetiaan Allah akan terdorong untuk menghadirkan kesetiaan yang sama dalam keluarga, persahabatan, pelayanan, dan setiap janji yang telah dipercayakan kepadanya. Dengan demikian, hidup kita menjadi pantulan dari Allah yang selalu setia dan tidak pernah berhenti mengasihi umat-Nya.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda