Allah Memanggil untuk Menjadi Jawaban
...

Allah Memanggil untuk Menjadi Jawaban

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Sabtu, 11 Juli 2026. Allah Memanggil untuk Menjadi Jawaban bagi Zaman (Yesaya 6:1-8). 6:1 Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci. 6:2 Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang. 6:3 Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya! 6:4 Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itupun penuhlah dengan asap. 6:5 Lalu kataku: Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam. 6:6 Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah. 6:7 Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni. 6:8 Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku? Maka sahutku: Ini aku, utuslah aku!

Renungan : Dua pokok permenungan dari bacaan pertama hari ini, Yesaya 6:1-8, dalam terang Pesta Wajib Santo Benediktus:

Pertama : Panggilan Allah Selalu Berawal dari Pengalaman Akan Kekudusan-Nya. Nabi Yesaya tidak langsung menerima tugas perutusan. Semuanya diawali dengan penglihatan akan kemuliaan Tuhan yang bertakhta di Bait Suci, sementara para serafim tak henti-hentinya berseru, Kudus, kudus, kuduslah Tuhan. Di hadapan kekudusan Allah, Yesaya tidak merasa layak, tetapi justru menyadari keberdosaannya: Celakalah aku! Aku binasa! Kesadaran akan kelemahan diri ternyata bukan penghalang panggilan, melainkan pintu masuk bagi karya rahmat Allah. Setelah bibirnya dimurnikan dengan bara dari mezbah, barulah Yesaya mampu menjawab, Ini aku, utuslah aku! Jalan yang sama tampak dalam hidup Santo Benediktus. Ia tidak memulai pembaruan Gereja dengan mengejar pengaruh atau kekuasaan, tetapi dengan terlebih dahulu mencari Allah (quaerere Deum) melalui doa, keheningan, dan hidup yang kudus. Dari hati yang telah dipenuhi Allah itulah lahir perutusan yang mengubah banyak orang. Bacaan ini mengingatkan bahwa karya kerasulan yang paling subur selalu bertumbuh dari hati yang lebih dahulu disentuh oleh kekudusan Tuhan.



Kedua : Allah Memanggil untuk Menjadi Jawaban bagi Zaman. Setelah Yesaya dimurnikan, Allah bertanya, Siapakah yang akan Kuutus? Pertanyaan itu bukan karena Allah kekurangan utusan, melainkan karena Ia menghendaki jawaban bebas dari manusia. Yesaya menjawab tanpa mengetahui seluruh beratnya tugas yang akan diemban. Ia hanya percaya kepada Dia yang memanggilnya. Sikap inilah yang juga menjadi ciri khas Santo Benediktus. Ketika masyarakat pada zamannya mengalami kekacauan akibat runtuhnya tatanan politik dan moral, ia tidak mengeluh atau menyerah pada keadaan. Melalui kesetiaan pada doa, kerja, dan kehidupan bersama—yang kemudian dirumuskan dalam semboyan ora et labora—ia menghadirkan harapan dan membangun kembali peradaban dari dalam. Perutusan Allah sering kali tidak dimulai dengan melakukan hal-hal besar, melainkan dengan kesetiaan pada panggilan sehari-hari. Di tengah dunia yang juga dipenuhi kebisingan, perpecahan, dan kehilangan arah, Tuhan terus bertanya kepada setiap orang beriman: Siapakah yang akan Kuutus? Jawaban Ini aku, utuslah aku tetap menjadi awal dari setiap pembaruan yang dikerjakan Allah melalui hidup manusia.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda