Belaskasih Allah Lebih Kuat daripada Murka-Nya
...

Belaskasih Allah Lebih Kuat daripada Murka-Nya

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Kamis, 09 Juli 2026. Belaskasih Allah Lebih Kuat daripada Murka-Nya (Hosea 11: 1.3-4.8-9). 11:1 Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu. 11:3 Padahal Akulah yang mengajar Efraim berjalan dan mengangkat mereka di tangan-Ku, tetapi mereka tidak mau insaf, bahwa Aku menyembuhkan mereka. 11:4 Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan, dengan ikatan kasih. Bagi mereka Aku seperti orang yang mengangkat kuk dari tulang rahang mereka Aku membungkuk kepada mereka untuk memberi mereka makan. 11:8 Masakan Aku membiarkan engkau, hai Efraim, menyerahkan engkau, hai Israel? Masakan Aku membiarkan engkau seperti Adma, membuat engkau seperti Zeboim? Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak. 11:9 Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali. Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu, dan Aku tidak datang untuk menghanguskan.

Renungan : Dua pokok permenungan dari bacaan pertama hari ini, Hosea 11:1b.3-4.8c-9:

Pertama : Kasih Allah Selalu Mendahului Kesadaran Manusia. Nabi Hosea melukiskan Allah sebagai seorang Bapa yang dengan penuh kelembutan mengajar anak-Nya berjalan, mengangkatnya ke pipi-Nya, membungkuk untuk menyuapinya, dan menuntunnya dengan tali kasih. Gambaran ini menunjukkan bahwa relasi Allah dengan manusia tidak dimulai oleh usaha manusia mencari Tuhan, melainkan oleh inisiatif kasih Allah sendiri. Bahkan ketika Israel tidak menyadari bahwa Allahlah yang menyembuhkan dan memelihara mereka, Allah tetap setia mengasihi. Demikian pula dalam hidup kita, sering setelah melewati berbagai pengalaman, kita baru menyadari bahwa betapa banyak langkah hidup kita yang telah ditopang oleh tangan Tuhan. Rahmat Allah selalu bekerja lebih dahulu dari jawaban manusia. Kesadaran ini menumbuhkan kerendahan hati. Hidup rohani bukan pertama-tama tentang pencapaian kita. Hidup rohani adalah tentang kesediaan membuka mata terhadap kasih Allah yang telah terlebih dahulu hadir dan bekerja dalam kehidupan kita.



Kedua : Belaskasih Allah Lebih Kuat daripada Murka-Nya. Di bagian yang paling mengharukan, Allah seakan memperlihatkan pergulatan hati-Nya sendiri: Hati-Ku berbalik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak. Meskipun Israel pantas menerima hukuman karena ketidaksetiaannya, Allah memilih untuk tidak membinasakan mereka. Keputusan itu bukan karena dosa dianggap sepele, melainkan karena kasih Allah jauh melampaui logika pembalasan manusia. Allah sendiri menegaskan, Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia. Manusia sering membalas luka dengan kemarahan. Allah membalas pertobatan dengan belas kasih. Inilah kekhasan kasih ilahi: keadilan-Nya selalu disempurnakan oleh belas kasihan. Bacaan ini mengundang kita untuk percaya bahwa tidak ada kegagalan yang terlalu besar bagi hati Allah, sekaligus menantang kita untuk meneladan cara Allah memperlakukan sesama, yakni lebih memilih mengampuni daripada menghukum, lebih mengedepankan pemulihan daripada pembalasan.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda